Senin, 28 Juli 2008

talenta,

seorang yang mau bepergian ke luar negeri,

yang memanggil hamba-hambanya dan mempercayakan hartanya kepada mereka.

Yang seorang diberikannya lima talenta,

yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu,

masing-masing menurut kesanggupannya,

lalu ia berangkat.

Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu.

Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Lama sesudah itu pulanglah tuan hamba-hamba itu lalu mengadakan perhitungan dengan mereka.

Hamba yang menerima lima talenta itu datang dan ia membawa laba lima talenta, katanya: Tuan, lima talenta tuan percayakan kepadaku;

lihat, aku telah beroleh laba lima talenta.

Maka kata tuannya itu kepadanya:

Baik sekali perbuatanmu itu,

hai hambaku yang baik dan setia;

engkau telah setia dalam perkara kecil,

aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.

Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Lalu datanglah hamba yang menerima dua talenta itu, katanya:

Tuan, dua talenta tuan percayakan kepadaku;

lihat, aku telah beroleh laba dua talenta.

Maka kata tuannya itu kepadanya:

Baik sekali perbuatanmu itu,

hai hambaku yang baik dan setia,

engkau telah setia memikul tanggung jawab dalam perkara yang kecil,

aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar.

Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

Kini datanglah juga hamba yang menerima satu talenta itu dan berkata:

Tuan, aku tahu bahwa tuan adalah manusia yang kejam yang menuai di tempat di mana tuan tidak menabur dan yang memungut dari tempat di mana tuan tidak menanam.

Karena itu aku takut dan pergi menyembunyikan talenta tuan itu di dalam tanah:

Ini, terimalah kepunyaan tuan!

Maka jawab tuannya itu:

Hai kamu,

hamba yang jahat dan malas,

jadi kamu sudah tahu,

bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam?

Karena itu sudahlah seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang,

supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.

Sebab itu ambillah talenta itu dari padanya dan berikanlah kepada orang yang mempunyai sepuluh talenta itu.

Karena setiap orang yang mempunyai,

kepadanya akan diberi,

sehingga ia berkelimpahan.

Tetapi siapa yang tidak mempunyai,

apapun juga yang ada padanya akan diambil dari padanya.

Dan campakkanlah hamba yang tidak berguna itu ke dalam kegelapan yang paling gelap. Di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi."

Sepuluh gadis,

Sepuluh gadis,

yang mengambil pelitanya dan pergi menyongsong mempelai laki-laki.

Lima di antaranya bodoh dan lima bijaksana.

Gadis-gadis yang bodoh itu membawa pelitanya,

tetapi tidak membawa minyak,

sedangkan gadis-gadis yang bijaksana itu membawa pelitanya dan juga minyak dalam buli-buli mereka.

Tetapi karena mempelai itu lama tidak datang-datang juga,

mengantuklah mereka semua lalu tertidur.

Waktu tengah malam terdengarlah suara orang berseru:

Mempelai datang!

Songsonglah dia!

Gadis-gadis itupun bangun semuanya lalu membereskan pelita mereka.

Gadis-gadis yang bodoh berkata kepada gadis-gadis yang bijaksana:

Berikanlah kami sedikit dari minyakmu itu,

sebab pelita kami hampir padam.

Tetapi jawab gadis-gadis yang bijaksana itu:

Tidak, nanti tidak cukup untuk kami dan untuk kamu.

Lebih baik kamu pergi kepada penjual minyak dan beli di situ.

Akan tetapi,

waktu mereka sedang pergi untuk membelinya,

datanglah mempelai itu dan mereka yang telah siap sedia masuk bersama-sama dengan dia ke ruang perjamuan kawin,

lalu pintu ditutup.

Kemudian datang juga gadis-gadis yang lain itu dan berkata:

Tuan,

tuan,

bukakanlah kami pintu!

Tetapi ia menjawab:

Aku berkata kepadamu,

sesungguhnya aku tidak mengenal kamu.

Karena itu,

berjaga-jagalah,

sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya."

Perjamuan kawin

seorang raja, yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya.

Ia menyuruh hamba-hambanya memanggil orang-orang yang telah diundang ke perjamuan kawin itu,

tetapi orang-orang itu tidak mau datang.

Ia menyuruh pula hamba-hamba lain,

pesannya: Katakanlah kepada orang-orang yang diundang itu:

Sesungguhnya hidangan,

telah kusediakan,

lembu-lembu jantan dan ternak piaraanku telah disembelih;

semuanya telah tersedia,

datanglah ke perjamuan kawin ini.

Tetapi orang-orang yang diundang itu tidak mengindahkannya;

ada yang pergi ke ladangnya,

ada yang pergi mengurus usahanya,

dan yang lain menangkap hamba-hambanya itu,

menyiksanya dan membunuhnya.

Maka murkalah raja itu,

lalu menyuruh pasukannya ke sana untuk membinasakan pembunuh-pembunuh itu dan membakar kota mereka.

Sesudah itu ia berkata kepada hamba-hambanya:

Perjamuan kawin telah tersedia,

tetapi orang-orang yang diundang tadi tidak layak untuk itu.

Sebab itu pergilah ke persimpangan-persimpangan jalan dan undanglah setiap orang yang kamu jumpai di sana ke perjamuan kawin itu.

Maka pergilah hamba-hamba itu dan mereka mengumpulkan semua orang yang dijumpainya di jalan-jalan,

orang-orang jahat dan orang-orang baik,

sehingga penuhlah ruangan perjamuan kawin itu dengan tamu.

Ketika raja itu masuk untuk bertemu dengan tamu-tamu itu,

ia melihat seorang yang tidak berpakaian pesta.

Ia berkata kepadanya:

Hai saudara,

bagaimana engkau masuk ke mari dengan tidak mengenakan pakaian pesta?

Tetapi orang itu diam saja.

Lalu kata raja itu kepada hamba-hambanya:

Ikatlah kaki dan tangannya dan campakkanlah orang itu ke dalam kegelapan yang paling gelap, di sanalah akan terdapat ratap dan kertak gigi.

Sebab banyak yang dipanggil,

tetapi sedikit yang dipilih."

kebun anggur

Adalah seorang tuan tanah membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya.

Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga di dalam kebun itu.

Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain.

Ketika hampir tiba musim petik,

ia menyuruh hamba-hambanya kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima hasil yang menjadi bagiannya.

Tetapi penggarap-penggarap itu menangkap hamba-hambanya itu: mereka memukul yang seorang, membunuh yang lain dan melempari yang lain pula dengan batu.

Kemudian tuan itu menyuruh pula hamba-hamba yang lain,

lebih banyak dari pada yang semula, tetapi merekapun diperlakukan sama seperti kawan-kawan mereka.

Akhirnya ia menyuruh anaknya kepada mereka,

katanya: Anakku akan mereka segani.

Tetapi ketika penggarap-penggarap itu melihat anaknya itu,

mereka berkata seorang kepada yang lain:

Ia adalah ahli waris,

mari kita bunuh dia,

supaya warisannya menjadi milik kita.

Mereka menangkapnya dan melemparkannya ke luar kebun anggur itu,

lalu membunuhnya.

Maka apabila tuan kebun anggur itu datang,

apakah yang akan dilakukannya dengan penggarap-penggarap itu?"

Kata mereka kepada-Nya: "Ia akan membinasakan orang-orang jahat itu dan kebun anggurnya akan disewakannya kepada penggarap-penggarap lain,

yang akan menyerahkan hasilnya kepadanya pada waktunya."

anak

"Tetapi apakah pendapatmu tentang ini:

Seorang mempunyai dua anak laki-laki.

Ia pergi kepada anak yang sulung dan berkata: Anakku,

pergi dan bekerjalah hari ini dalam kebun anggur.

Jawab anak itu: Baik, bapa.

Tetapi ia tidak pergi.

Lalu orang itu pergi kepada anak yang kedua dan berkata demikian juga.

Dan anak itu menjawab: Aku tidak mau.

Tetapi kemudian ia menyesal lalu pergi juga.

Siapakah di antara kedua orang itu yang melakukan kehendak ayahnya?"

Jawab mereka: "Yang terakhir."

murah hati

seorang tuan rumah yang pagi-pagi benar keluar mencari pekerja-pekerja untuk kebun anggurnya.

Setelah ia sepakat dengan pekerja-pekerja itu mengenai upah sedinar sehari,

ia menyuruh mereka ke kebun anggurnya.

Kira-kira pukul sembilan pagi ia keluar pula dan dilihatnya ada lagi orang-orang lain menganggur di pasar.

Katanya kepada mereka:

Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku dan apa yang pantas akan kuberikan kepadamu. Dan merekapun pergi.

Kira-kira pukul dua belas dan pukul tiga petang ia keluar pula dan melakukan sama seperti tadi.

Kira-kira pukul lima petang ia keluar lagi dan mendapati orang-orang lain pula,

lalu katanya kepada mereka:

Mengapa kamu menganggur saja di sini sepanjang hari?

Kata mereka kepadanya:

Karena tidak ada orang mengupah kami.

Katanya kepada mereka:

Pergi jugalah kamu ke kebun anggurku.

Ketika hari malam tuan itu berkata kepada mandurnya:

Panggillah pekerja-pekerja itu dan bayarkan upah mereka,

mulai dengan mereka yang masuk terakhir hingga mereka yang masuk terdahulu.

Maka datanglah mereka yang mulai bekerja kira-kira pukul lima dan mereka menerima masing-masing satu dinar.

Kemudian datanglah mereka yang masuk terdahulu,

sangkanya akan mendapat lebih banyak,

tetapi merekapun menerima masing-masing satu dinar juga.

Ketika mereka menerimanya,

mereka bersungut-sungut kepada tuan itu,

katanya: Mereka yang masuk terakhir ini hanya bekerja satu jam dan engkau menyamakan mereka dengan kami yang sehari suntuk bekerja berat dan menanggung panas terik matahari.

Tetapi tuan itu menjawab seorang dari mereka:

Saudara,

aku tidak berlaku tidak adil terhadap engkau.

Bukankah kita telah sepakat sedinar sehari?

Ambillah bagianmu dan pergilah;

aku mau memberikan kepada orang yang masuk terakhir ini sama seperti kepadamu.

Tidakkah aku bebas mempergunakan milikku menurut kehendak hatiku?

Atau iri hatikah engkau,

karena aku murah hati?

Demikianlah orang yang terakhir akan menjadi yang terdahulu dan yang terdahulu akan menjadi yang terakhir."

Seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.

Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu,

dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.

Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya,

raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.

Maka sujudlah hamba itu menyembah dia,

katanya: Sabarlah dahulu,

segala hutangku akan kulunaskan.

Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu,

sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.

Tetapi ketika hamba itu keluar,

ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya.

Ia menangkap dan mencekik kawannya itu,

katanya: Bayar hutangmu!

Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya:

Sabarlah dahulu,

hutangku itu akan kulunaskan.

Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.

Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.

Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya:

Hai hamba yang jahat,

seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.

Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?

Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo,

sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.


Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir,

dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu."